Rabu, 05 November 2014
Selasa, 23 September 2014
Dari bumi NTB untuk Palestina..
Konser amal bersama Tim Nasyid Izzatul Islam dan Opick, di Narmada Convention Hall (Ahad, 21 September 2014)
Ini kali keduaku mengikuti acara yang sama di tempat yang sama pula, terima kasih Ya Allah atas nikmat kesempatan ini.
Maklum, sekarang udah jadi orang pulau (Gili Air tercinta), jarang ketemu saudara-saudari di Mataram. Itu niat sambungan saja, utamanya adalah mengahadiri acara yang dapat membuat semakin menguatkan ingatan akan duka saudara muslim di Palestina.
Alhamdulillah dua niat dalam satu kesempatan itu disampaikan Allah, acaranya mengesankan, dan selesainya jadi panjang lebar, sekali melangkah, ketemu si ini, salaman, cupika-cupiki, tanya kabar n ngobrol dikit, melangkah lagi, ketemu lagi si itu. hehehe, terulang demikian hingga bila tak melihat jam yang sudah menunjukkan waktu zuhur, besar kemungkinan saya akan pulang di waktu asar.
Akhirnya dengan agak menunduk, pura-pura ga lihat siapa-siapa sy menerobos keluar gedung, ke parkiran, ambil motor dan... Hmmm, ketemu lagi si ini itu... hehehe.
Ujung-ujungnya sampai KLU udah mau asar. Setelah sholat zuhur di masjid kampus Unram sekalian nostalgia semasa jadi mahasiswa n aktifis dulu (duh, rinduuuuuu)...
Ini kali keduaku mengikuti acara yang sama di tempat yang sama pula, terima kasih Ya Allah atas nikmat kesempatan ini.
Maklum, sekarang udah jadi orang pulau (Gili Air tercinta), jarang ketemu saudara-saudari di Mataram. Itu niat sambungan saja, utamanya adalah mengahadiri acara yang dapat membuat semakin menguatkan ingatan akan duka saudara muslim di Palestina.
Alhamdulillah dua niat dalam satu kesempatan itu disampaikan Allah, acaranya mengesankan, dan selesainya jadi panjang lebar, sekali melangkah, ketemu si ini, salaman, cupika-cupiki, tanya kabar n ngobrol dikit, melangkah lagi, ketemu lagi si itu. hehehe, terulang demikian hingga bila tak melihat jam yang sudah menunjukkan waktu zuhur, besar kemungkinan saya akan pulang di waktu asar.
Akhirnya dengan agak menunduk, pura-pura ga lihat siapa-siapa sy menerobos keluar gedung, ke parkiran, ambil motor dan... Hmmm, ketemu lagi si ini itu... hehehe.
Ujung-ujungnya sampai KLU udah mau asar. Setelah sholat zuhur di masjid kampus Unram sekalian nostalgia semasa jadi mahasiswa n aktifis dulu (duh, rinduuuuuu)...
Catatan tentang siswaku... belajar meringkas
Hari-hari menjadi guru, at SDN 1 Gili Indah
Salah satu pelajaran Bahasa
Indonesia di kelas VI adalah meringkas wacana. Pekerjaan yang amat membosankan,
pada umumnya. Membuat siswa harus membaca (di tengah budaya malas baca) u
kemudian memahami lantas menulis ringkasannya (di tengah budaya malas nulis).
Benar-benar harus sabar kalau mau mereka melakukannya dengan baik. Harus ada
analogi yang dituturkan, mesti ada motivasi yang diselipkan.
Tahap pertama dari meringkas
pasti membaca. Dan untuk membuat mereka mau membaca wacana yang akan diringkas
(walaupun bahan bacaan itu tak sampai satu halaman penuh), saya menganalogikan
kegiatan membaca seperti sebuah teko, cerek atau kocor bahasa mereka (bahasa
sasak sy juga, hehehe) yang pasti berisi air/cairan. Bila cerek yang kosong
dituang, apa yang keluar? Tanya saya. Kebanyakan mereka menjawab “tak ada bu”.
Yah, tapi namanya anak-anak, ada juga yang menjawab usil “om jin yang keluar
Bu” (usut diusut, ternyata di tivi lagi ada serial Aladin, pantas saja di
kelasku ada yang mengaku jadi Aladin dan menunjuk teman perempuannya jadi Putri
Yasmin, #efek anak baru puber)
Lantas saya melanjutkan, tentu
saja tak ada yang keluar karena memang ceretnya kosong dan tak pernah diisi
air. Demikian pula dengan otak kita yang mestinya diisi oleh ilmu, apa yang
akan kalian tulis jika tak pernah membaca?
See.. mereka kemudian mulai
membaca.
Ketika tahap selanjutnya, yaitu
meringkas, saya motivasi mereka dengan sebuah skripsi tebal, lantas menunjukkan
selembar abstraknya. Betapa skripsi yang ratusan halaman itu, secara mengagumkan
dapat diringkas menjadi hanya selembar kertas yang berjudul ABSTRAK.
Wew, lumayan berhasil, sy mulai
menjelaskan metode meringkas ala 5W1H.
1.
Membaca dengan cermat bahan yang akan diringkas.
2.
Membuat daftar pertanyaan meliputi 5W1H (what,who,
where, when, why dan how)
3.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, cara
menjawabnya adalah menulis kembali pertanyaan dengan terlebih dahulu tidak
mengikutsertakan kata tanyanya kemudian melanjutkan dengan jawaban dari
pertanyaan tersebut.
4.
Menyusun ulang jawaban-jawaban tersebut menjadi paragraph
yang padu dengan disertai tambahan kata penghubung (bila diperlukan)
Senin, 22 September 2014
Namanya Ilalang
Imperata Cylindrica
Namanya ilalang…
Dalam hidup yang liar, ia meratu
dengan kesembarangannya.
Menantang gersang, menyapa wajah
tanah berbatu dengan pucuk tunasnya.
Namanya ilalang…
Dalam alam yang molek, ia menari
dengan irama angin.
Berbicara pada badai, lantas merunduk
murka pada hujan yang menimpanya.
Namanya ilalang…
Dalam dunia yang pura2, ia hijau
selama hidupnya.
Namun dibalik rimbun, ia
menyimpan misteri petaka para melata.
Ilalang…
Putih bunganya adalah cerita bumi
tentang keadilan Pencipta pada warna.
Ia hidup dalam kelompoknya adalah
petuah abadi tentang sendiri yang penuh bencana.
Gemerisik gesek daunnya adalah
harmoni semesta.
Lalu…
Selamanya ia merasa bahagia,
Tuhan ciptakan tanpa banyak mata yang suka padanya.
Dedicate to my Imperata Cylindrica. Alone with no admirer.
LEBIH BAIK DISINI, RUMAH KITA SENDIRI. INDONESIA.
Dari Argapura, Singgalang hingga Jayawijaya. Menghampar lembah, menjulang puncak, lalu pekat jurang curamnya.
Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Indonesia.
Dari daratan Jawa, Sumatera hingga Nusa Tenggara. Ada tertetes warna surga disana, dalam lambaian ilalang dan rayuan daun kelapa.
Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Indonesia.
Dari Baduy, Sasak hingga Sunda. Berbeda membuat mereka menyatu, memaknai cinta untuk bangsa.
Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Indonesia.
Dari sambal terasi, tahu tempe dan ketela. Ragam rasanya adalah cara negeri ini memanjakan rakyatnya.
Air menghidupkan, tanah menumbuhkan, angin menaburkan, hutan menyejukkan, matahari bersinar sepanjang tahun, hujan menjurai mengisi lubuk-lubuk dedanau dan kelok sungai.
Indonesia…
Walaupun yang tertinggal kini hanya bayi-bayi yang dulu lemah kini kuat untuk mendurhaka, manusia-manusia yang dulu gagah tinggallah sejarah, dan bumi yang pernah hijau kini mengusam abu.
Tak usah ditanya, selalu lebih baik disini, rumah kita sendiri. Indonesia.
Minggu, 21 September 2014
Untuk Ilalang Club
Kita adalah sekumpulan orang-orang aneh.
Berlari ke kiri saat orang lain bergegas ke kanan.
Menjadi gila saat orang lain berusaha mempertahankan kewarasan.
Kadang kita bicara tentang banyak hal yang orang lain ingin lupakan.
Lalu kita terkagum-kagum pada sebatang rumput bernama ilalang.
Tuhan saja yang tahu, mengapa kita bertemu dalam dimensi ruang dan waktu yang sama.
To: Ney, Gwen.
Too many reason for us to make apart. But, however, I proud of our togetherness.
Langganan:
Postingan (Atom)














